Raja-raja Mataram
Pemerintahan Pu Daksa Pu Daksa berhasil naik tahta pada tahun 911 atau 912 M. Didalam pemerintahannya Daksa tidak menunjuk seorang putr...
https://template-media-nets.blogspot.com/2014/12/raja-raja-mataram.html
Pemerintahan Pu Daksa
Pu Daksa berhasil naik tahta pada tahun 911 atau 912 M. Didalam pemerintahannya Daksa tidak menunjuk seorang putra mahkota sebagai calon pengganti, mungkin ini masalah yang peka bagi Daksa di dalam pemerintahannya. Menurut Prasasti Sugih Manek disebutkan permaisuri raja diantara mereka yang memperoleh persembahan dengan sebutan Rakryan Binihaji Prameswari. Selain itu juga ditemukan prasasti yang didalamnya memuat suatu peristiwa keagamaan. Rupanya perebutan kekuasaan diantara pangeran tetap berjalan terus. Pu Daksa memerintah tidak lama yaitu lebih kurang 8 tahun. Kemudian beliau digantikan oleh Rakai Layang Dyah Tlodong Sri Sarrana sanmatanuraya Tunggadewa.
Pemerintahan Rakai Layang
Seperti telah dikatakan di atas bahwa Daksa tidak menunjuk seorang putra mahkota. Dan ternyata Rakai Layang juga bukan pejabat eselon pertama dalam masa pemerintahan Daksa. Karena Rakai layang tidak ditetapkan sebagai calon pewaris tahta kerajaan sudah dapat dipastikan bahwa dia naik tahta dengan cara merebut kekuasaan dari pewaris yang sah. Dari sebuah prasasti yang bernama Prasasti Warudu Kidul diperoleh keterangan bahwa pada masa pemerintahan Rakai Layang terdapat orang-orang asingyang menetap dikerajaan Mataram. Rupanya mereka itu mempunyai status yang berbeda dengan penduduk asli. Yang jelas ialah bahwa orang asing tersebut terus membayar pajak karena dianggap mereka itu kelompok pedagang yang kaya raya.
Pemerintahan Rakai Layang juga tidak lama yaitu sekurang-kurangnya 8 tahun tidak lebih dari 12 tahun.
Pemerintahan Dyah Wawa
Pada tahun 849 saka muncul raja Dyah Wawa. Beliau menyebut dirinya anak Kryan Ladheyan Sang Lumahring Atas. Nama Kryan Ladheyan mengingatkan kita kepada nama Rakryan yang merupakan adik ipar Rakai Kayuwangi. Jelas beliau buakan anak Rakai Layang Dyah Tlodhong. Dia bukan keturunan dari raja Mataram sehingga dia tidak berhak menjadi raja dan menduduki tahta Mataram.
Keterangan menarik dari masa pemerintahannya adalah adanya pemberian Sima yang dianugrahkan pada juru Gusali atau pandai besi, perunggu, emas dan tembaga.
Masa pemerintahan Rakai Sumbo Berakhir dengan tiba-tiba, mungkin karena letusan gunung merapi yang terhebat dalam sejarahnya, maka kaum kerabat raja dan pejabat tinggi kerajaan serta rakyat yang daerhnya tertimpa bencana itu lari mengungsi ke arah timur ( Jawa Timur ).
Pemerintahan Pu Sindok
Sementara itu di Jawa Timur terdapat daerah yang sudah dikenal ada penguasa daerah yang tunduk kepada Mataram yaitu daerah Kanuruhan. Kemudian Pu Sindok membangun ibu kota Tamwlang. Sesuai dengan landasan kosmogonis kerajaan, maka kerajaan baru itu dianggap sebagai dunia baru, dengan tempat pemujaan yang baru dan diperintahkan oleh wangsa yang baru pula. Maka meskipun Pu Sindok sebenarnya masih anggota wangsa Sailendra, mengingat kedudukannya sebagai rakyan mapatih I Halu dan I Hino pada masa pemerintahan rakai Layang dan rakai Cumba ia dianggap sebagai pendiri Wangsa baru yaitu Wangsa Isana.
Pu Sindok mempunyai anak perempuan bernama Sri Isana Tunggawijaya yang kawin dengan Sri Lokapala dan mempunyai anak bernama Sri Makutawangsawardhana.
Pu Sindok sekurang-kurangnya memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M. Dari masa pemerintahannya di dapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian besar tertulis diatas batu. Sebagian besar prasasti Pu Sindok berkeneen dengan penetapan Sima bagi suatu bangunan suci, kebanyakan atas permintaan pejabat atau rakyat desa.
Dharmawangsa Teguh
Dharmawangsa Teguh menurut kitab Wirataparwa, memerintah dalam dasawarsa terakhir abad 10 Masehi dan mungkin sampai tahun 1017 M. Melihat gelarnya yang mengandung unsur Isana. Ia jelas keturunan Pu Sindok secara langsung. Kemungkinan besar ia anak Makutawangsa Warddhana saudara Mahendradatta.
Dharmawangsa Teguh menggantikan ayahandanya duduk diatas tahta kerajaan Mataram.
Dharmawangsa Teguh yang begitu berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai keluar pulau Jawa ternyata mengalami keruntuhan di tangan seorang raja bawahannya sendiri yaitu Haji Wurawari.
Karena serangan yang dilakukan Haji Wurawari itu terjadi tak lama setelah perkawinan Airlangga dengan putri Teguh dapat diperkirakan bahwa mungkin sekali dia berambisi untuk mendampingi putri mahkota menggantikan Teguh diatas tahta kerajaan. Tetapi ternyata telah dipilih pangeran Pati dari luar Jawa, sekalipun kemenakan raja sendiri. Untuk melampiaskan kekecewaannya ia menyerang Srimaharaja secara tiba-tiba. Karena mendapat mendapat serangan yang tidak diduga itu akhirnya Dharmawangsa Teguh hancur. Menurut prasasti Pucangan beliau di candikan di Wwetan.
Airlangga
Dalam prasasti Pucangan menyebutkan bahwa Dharmawangsa Airlangga dapat menyelamatkan diri dari serangan Haji Wurawaridan masuk hutan dan hanya diikuti seorang hamba sahaya yang bernama Narottama.
Selama di dalam hutan Airlangga tidak pernah melupakan pemujaan terhadap dewa-dewa. Karena itulah maka para dewa amat besar cinta kasihnya kepadanya dan mengharapkan agar dia dapat melindungi dunia dan dapat menggantikan kedudukan leluhurnya.
Akhirnya pada tahun 941 saka ia direstui oleh para pendeta Siwa, Budha dan Maha Brahmana sebagai raja dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa .
Mengenai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga lebih banyak keterangan di dapatkan karena banyak prasasti yang diketemukan lagi. Lain dari pada itu prasasti Pucanagan banyak memberi informasi peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya, prasasti Pucangan memuat silsilah Airlangga yang dibuat oleh para pujangga untuk memberikan pengesahan kepada raja.
Meskipun sudah ada silsilah itu tentu ada juga pihak yang merasa tidak puas dengan pemerintahan Airlangga. Sebab tidak mungkin keterangan pu Sindok binasa semua. Selain itu juga masih ada raja bawahan teguh yang berusaha memberontak, maka sebagian besar masa pemerintahan Airlangga dipenuhi dengan peperangan menaklukkan kembali semua raja bawahan.
Pada masa pemerintahnya dia memiliki pujangga yang ulung yaitu Mpu Kanwa yang menulis kitap Arjuna Wiwaha.
Pu Daksa berhasil naik tahta pada tahun 911 atau 912 M. Didalam pemerintahannya Daksa tidak menunjuk seorang putra mahkota sebagai calon pengganti, mungkin ini masalah yang peka bagi Daksa di dalam pemerintahannya. Menurut Prasasti Sugih Manek disebutkan permaisuri raja diantara mereka yang memperoleh persembahan dengan sebutan Rakryan Binihaji Prameswari. Selain itu juga ditemukan prasasti yang didalamnya memuat suatu peristiwa keagamaan. Rupanya perebutan kekuasaan diantara pangeran tetap berjalan terus. Pu Daksa memerintah tidak lama yaitu lebih kurang 8 tahun. Kemudian beliau digantikan oleh Rakai Layang Dyah Tlodong Sri Sarrana sanmatanuraya Tunggadewa.
Pemerintahan Rakai Layang
Seperti telah dikatakan di atas bahwa Daksa tidak menunjuk seorang putra mahkota. Dan ternyata Rakai Layang juga bukan pejabat eselon pertama dalam masa pemerintahan Daksa. Karena Rakai layang tidak ditetapkan sebagai calon pewaris tahta kerajaan sudah dapat dipastikan bahwa dia naik tahta dengan cara merebut kekuasaan dari pewaris yang sah. Dari sebuah prasasti yang bernama Prasasti Warudu Kidul diperoleh keterangan bahwa pada masa pemerintahan Rakai Layang terdapat orang-orang asingyang menetap dikerajaan Mataram. Rupanya mereka itu mempunyai status yang berbeda dengan penduduk asli. Yang jelas ialah bahwa orang asing tersebut terus membayar pajak karena dianggap mereka itu kelompok pedagang yang kaya raya.
Pemerintahan Rakai Layang juga tidak lama yaitu sekurang-kurangnya 8 tahun tidak lebih dari 12 tahun.
Pemerintahan Dyah Wawa
Pada tahun 849 saka muncul raja Dyah Wawa. Beliau menyebut dirinya anak Kryan Ladheyan Sang Lumahring Atas. Nama Kryan Ladheyan mengingatkan kita kepada nama Rakryan yang merupakan adik ipar Rakai Kayuwangi. Jelas beliau buakan anak Rakai Layang Dyah Tlodhong. Dia bukan keturunan dari raja Mataram sehingga dia tidak berhak menjadi raja dan menduduki tahta Mataram.
Keterangan menarik dari masa pemerintahannya adalah adanya pemberian Sima yang dianugrahkan pada juru Gusali atau pandai besi, perunggu, emas dan tembaga.
Masa pemerintahan Rakai Sumbo Berakhir dengan tiba-tiba, mungkin karena letusan gunung merapi yang terhebat dalam sejarahnya, maka kaum kerabat raja dan pejabat tinggi kerajaan serta rakyat yang daerhnya tertimpa bencana itu lari mengungsi ke arah timur ( Jawa Timur ).
Pemerintahan Pu Sindok
Sementara itu di Jawa Timur terdapat daerah yang sudah dikenal ada penguasa daerah yang tunduk kepada Mataram yaitu daerah Kanuruhan. Kemudian Pu Sindok membangun ibu kota Tamwlang. Sesuai dengan landasan kosmogonis kerajaan, maka kerajaan baru itu dianggap sebagai dunia baru, dengan tempat pemujaan yang baru dan diperintahkan oleh wangsa yang baru pula. Maka meskipun Pu Sindok sebenarnya masih anggota wangsa Sailendra, mengingat kedudukannya sebagai rakyan mapatih I Halu dan I Hino pada masa pemerintahan rakai Layang dan rakai Cumba ia dianggap sebagai pendiri Wangsa baru yaitu Wangsa Isana.
Pu Sindok mempunyai anak perempuan bernama Sri Isana Tunggawijaya yang kawin dengan Sri Lokapala dan mempunyai anak bernama Sri Makutawangsawardhana.
Pu Sindok sekurang-kurangnya memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M. Dari masa pemerintahannya di dapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian besar tertulis diatas batu. Sebagian besar prasasti Pu Sindok berkeneen dengan penetapan Sima bagi suatu bangunan suci, kebanyakan atas permintaan pejabat atau rakyat desa.
Dharmawangsa Teguh
Dharmawangsa Teguh menurut kitab Wirataparwa, memerintah dalam dasawarsa terakhir abad 10 Masehi dan mungkin sampai tahun 1017 M. Melihat gelarnya yang mengandung unsur Isana. Ia jelas keturunan Pu Sindok secara langsung. Kemungkinan besar ia anak Makutawangsa Warddhana saudara Mahendradatta.
Dharmawangsa Teguh menggantikan ayahandanya duduk diatas tahta kerajaan Mataram.
Dharmawangsa Teguh yang begitu berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai keluar pulau Jawa ternyata mengalami keruntuhan di tangan seorang raja bawahannya sendiri yaitu Haji Wurawari.
Karena serangan yang dilakukan Haji Wurawari itu terjadi tak lama setelah perkawinan Airlangga dengan putri Teguh dapat diperkirakan bahwa mungkin sekali dia berambisi untuk mendampingi putri mahkota menggantikan Teguh diatas tahta kerajaan. Tetapi ternyata telah dipilih pangeran Pati dari luar Jawa, sekalipun kemenakan raja sendiri. Untuk melampiaskan kekecewaannya ia menyerang Srimaharaja secara tiba-tiba. Karena mendapat mendapat serangan yang tidak diduga itu akhirnya Dharmawangsa Teguh hancur. Menurut prasasti Pucangan beliau di candikan di Wwetan.
Airlangga
Dalam prasasti Pucangan menyebutkan bahwa Dharmawangsa Airlangga dapat menyelamatkan diri dari serangan Haji Wurawaridan masuk hutan dan hanya diikuti seorang hamba sahaya yang bernama Narottama.
Selama di dalam hutan Airlangga tidak pernah melupakan pemujaan terhadap dewa-dewa. Karena itulah maka para dewa amat besar cinta kasihnya kepadanya dan mengharapkan agar dia dapat melindungi dunia dan dapat menggantikan kedudukan leluhurnya.
Akhirnya pada tahun 941 saka ia direstui oleh para pendeta Siwa, Budha dan Maha Brahmana sebagai raja dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa .
Mengenai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga lebih banyak keterangan di dapatkan karena banyak prasasti yang diketemukan lagi. Lain dari pada itu prasasti Pucanagan banyak memberi informasi peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya, prasasti Pucangan memuat silsilah Airlangga yang dibuat oleh para pujangga untuk memberikan pengesahan kepada raja.
Meskipun sudah ada silsilah itu tentu ada juga pihak yang merasa tidak puas dengan pemerintahan Airlangga. Sebab tidak mungkin keterangan pu Sindok binasa semua. Selain itu juga masih ada raja bawahan teguh yang berusaha memberontak, maka sebagian besar masa pemerintahan Airlangga dipenuhi dengan peperangan menaklukkan kembali semua raja bawahan.
Pada masa pemerintahnya dia memiliki pujangga yang ulung yaitu Mpu Kanwa yang menulis kitap Arjuna Wiwaha.
